Home      About Us      FAQ      How to Buy      Articles      Contact Us      My Account      My Wishlist      Shopping Cart [0]
User :
 
Password :
news
Perkembangan Teknologi Pay TV Indonesia
Perkembangan Teknologi Telepon Satelit
Technology Mirrorless dibanding DSLR
Technology of GPS Tracker
Update Perkembangan Dunia IT di Bidang Game
Perkumpulan Seni Foto Surabaya
Koperasi XXI
Smart Home
Teknologi CCTV
Memilih Media Pemadam Api untuk Produk IT
Media Website dalam Kehidupan Sehari-hari
Hasil Survei: Orang Indonesia Paling Banyak Beraktivitas di Depan Layar Kaca
Cyber City
Bandwidth Management
Peran Perempuan di Dunia IT
IT di Kafe Gaul
Penyimpanan Data Server dan Backup Data
Program Talkshow
Orange TV Hadirkan Kanal Baru Cinema World
Events
Dapatkan VOUCHER DISKON GPS TRACKER.
Semarak Majalah, Animasi dan Game Digital Surabaya atau disingkat dengan SEMANGGI SUROBOYO
Perkembangan Teknologi Pay TV Indonesia

Siaran Talkshow MAKE IT EASY on 104,7  Sindo Trijaya FM Surabaya
(Hasil Kerjasama www.limabenua.com dengan 104,7  Sindo Trijaya FM Surabaya)
21 Agustus 2014, pukul 14.00-15.00

Kamis (21/08) di 104,7 Sindo Trijaya FM Surabaya memulai sebuah program “Make It Easy” yang bekerjasama dengan PT. Lima Benua Koneksindo (www.LimaBenua.com). Program ini membahas seputar permasalahan menarik seputar dunia teknologi informasi. Memberikan informasi yang bersifat Edukasi bagi masyarakat, bahwa dengan adanya produk/perangkat IT itu sangat membantu dan mempermudah seseorang dalam melakukan aktivitasnya, baik di perusahaan maupun aktivitas lainnya. Talkshow dibawakan langsung oleh Adi Permana mulai pukul 14.00-15.00 WIB tiap kamis.
 
Tema talkshow kali ini mengusung topik yaitu “Perkembangan Teknologi Pay TV di Indonesia”. Dengan mengundang narasumber yang berkompetendibidangnya, Bapak Heru Pujianto dari PT. Mastekindo selaku Manager Mareketing, Pak Iwan Kurniawan dari K-Vision selaku Technical Support. Ibu Veronica selaku Corporate Area Sales East Java yang telah menggeluti dibidang Pay TV dari TopasTV.
 
Pay TV atau TV berlangganan berawal dari teknologi parabola dan muncul tahun 1970 di Amerika. Parabola adalah sebuah alat untuk menangkap frekuensi dari satelit. Baru digunakan untuk menangkap siaran TV yang pada saat itu ada stasiun TV HBO yang pertama kali menggunakan teknologi tersebut. 
 
Di Indonesia semua TV lokal porsi acaranya dengan porsi iklan apabila dikalkulasi lebih banyak iklannya. Masyarakat sebenarnya membutuhkan hiburan bukan promosi sehingga pada saat ini salah satu alternatif untuk menonton penuh suatu hiburan maka muncullah channel – channel seperti HBO. Dimana tidak terdapat iklan/promosi, murni full acara yang ditayangkan. Dari premium konten ini kemudian terdapat parabola akan tetapi dahulu harga masih mahal dan konten sedikit. Seiring waktu berjalan hingga kini semakin banyak konten yang muncul, parabola semakin dicari. 
 
Singkat cerita muncullah ide pertama kali di Pensylvania Amerika, karena sulit menangkap channel lokal yang terhalang bukit dan sebagainya. Terdapat warga yang memasang parabola dengan cara bersama-sama membeli, setelah itu didistribusikan dengan kabel-kabel. Dan siapa yang berkenan mendapatkan distribusi tersebut maka mereka akan membayar bulanan. 
 
Dari ide situlah berjalan banyak perusahaan yang melirik sebagai peluang untuk dijadikan bisnis sampai seluruh dunia dan di Asia yaitu Jepang yang pertama kali menjalankan bisnis ini pada tahun 1984. Empat tahun kemudian Indonesia mulai merintis bisnis tersebut, dengan Indovision yang mempeloporinya. Menggunakan teknologi TV saltelit dan teknologi DTH (Direct to Home), tidak memakai distribusi kabel. Penjelasan dari Pak Heru.
 
Penambahan dari Pak Iwan bahwa Pay TV sebelumnya untuk kualitas yang dipakai masih analog namun saat ini sudah kualitas HD (High Definity).
 
Ukuran fisik antena parabola diameter cukup besar seperti pada Indovision 0.9 meter, yang paling besar Kompas TV 1,2 meter. Semua termasuk mini parabola, untuk yang besar FTA(free to air) parabola yang tidak berbayar. Parabola berjaring yang tidak menggunakan decoder, channel-channel yang mereka dapatkan bukan channel premium (berbayar). Channel premium seperti HBO, National Geographic, dll, FTA benar-benar untuk penikmat rumah tangga yang tidak perlu berbayar, imbuh Bu Veronica.
 
Keuntungan memakai Pay TV ini dari sisi edukasi seperti untuk anak, kita dapat memilih program-program yang sesuai kebutuhan anak tersebut contohnya channel kartun, animal planet mengenai edukasi binatang, discovery channel wawasan tentang banyak hal dan lain sebagainya. Tidak hanya dari sisi edukasi, pebisnis atau siapapun mendapatkan inspirasi, wawasan, melalui Pay TV tersebut. 
 
Respon sms dari Pak Nugroho, perkembangan TV berbayar lebih banyak menggunakan parabola, apakah siaran TV berbayar juga berlaku undang-undang penyiaran dan bagaimana filter TV berbayar program luar negeri agar tidak merusak moral anak bangsa. Bu Veronica menanggapi, ketika perusahaan Pay TV diawal memang harus ada undang-undangnya dan ada undang-undang penyiaran. Dari pihak Pay TV akan melakukan diskusi dengan channel-channel yang mereka pilih. Untuk menyiasati tayangan-tayangan yang diluar dari budaya Indonesia, pihak Pay TV memakai sistem Parental Lock. Yang dibutuhkan kerjasama dengan pihak pelanggan. 
 
Sebelum masuk Indonesia Pay TV sudah menyesuaikan dengan etika kultur budaya di Indonesia, dan pastinya melalui filter yang sangat ketat. Imbuh Pak Heru. 
 
Sms dari Pak Sono, dengan banyaknya TV yang berbayar bagaimanakah cara memilih siaran yang berkualitas. Antara Pay TV satu dengan Pay TV lain memiliki persamaan yaitu mereka hanya menjual konten saja. Yang menjadi pembeda hanya dari kemasan paket-paketnya. Dengan semakin banyak pilihan semakin banyak pula referensi untuk memilih sesui dengan kebutuhan, jawab Pak Heru.
 

 
Be the first to know!
Home
About Us
FAQ
Video Streaming
How to Buy
News & Events
Articles
New Arrivals
Contact Us
My Account
My Wishlist
Downloads
Testimonial
Forum
Career
Sitemap
 
© 2012-2014 Lima Benua Koneksindo. All rights reserved.