Hampir seribu orang menyukai video itu. Ratusan membagikannya.
Di dalam video tersebut, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto—atau setidaknya seseorang yang sangat mirip dengannya—mengumumkan bantuan uang tunai Rp300 juta untuk setiap kepala keluarga di Indonesia. Suaranya meyakinkan. Gerakan bibirnya selaras. Latarnya resmi. Tapi itu semua palsu. Tingkat probabilitas rekayasa deepfake berbasis AI dalam video itu mencapai 99,3 persen.
Selamat datang di babak baru penipuan digital di Indonesia.
Apa yang terjadi?
Dalam beberapa pekan terakhir, gelombang video deepfake menyerbu media sosial Indonesia. Polanya konsisten: tokoh publik atau pejabat negara “diambil” wajah dan suaranya, lalu “diperintahkan” untuk mengumumkan bantuan, promosi investasi, atau program yang tidak pernah ada.
Menko Airlangga bukan satu-satunya korban. Menteri Keuangan Suahasil Nazara juga dicatut dalam video serupa. Suaranya dalam video yang beredar terdeteksi dihasilkan AI dengan probabilitas mencapai 99,4 persen. Foto yang digunakan adalah momen pelantikannya pada 14 September 2026—hanya beberapa hari sebelum video palsu itu menyebar.
Chairul Tanjung, Chairman CT Corp, juga menjadi korban. Sebuah video yang mempromosikan investasi palsu dipastikan hoaks dan merupakan hasil rekayasa AI. Dan Sri Sultan Hamengku Buwono X? Namanya kembali dicatut untuk mempromosikan jasa keuangan yang tidak pernah ia promosikan. Ini bukan insiden terisolasi. Ini pola.
Mengapa Ini Penting?
Karena deepfake bukan lagi soal hiburan. Dulu, AI generatif dipakai untuk membuat foto era 80-an atau meme lucu. Sekarang, alat yang sama dipakai untuk menipu. Dan pelakunya tidak lagi iseng—mereka terorganisir, punya target, dan tahu persis bagaimana memanfaatkan kepercayaan publik terhadap figur tertentu.
Data dari Indonesia Anti Scam Center (IASC) menunjukkan 1.379 laporan penipuan yang terindikasi menggunakan AI hingga Juni 2026. Angka itu belum termasuk laporan yang tidak sampai ke otoritas. Yang lebih mengkhawatirkan: serangan deepfake secara global melonjak 1.400 persen year-on-year dari 2024 ke 2025. Dan Indonesia, dengan populasi digital yang besar dan literasi yang belum merata, adalah target yang empuk.
Konteksnya: Ketika Hukum Tertinggal
Indonesia sebenarnya punya payung hukum untuk menghadapi fenomena ini. UU ITE mengatur larangan menyebarkan informasi elektronik yang menyesatkan dan memalsukan identitas digital. Pemerintah juga pernah memblokir aplikasi Grok AI pada Januari 2026 karena risiko konten deepfake pornografi. Tapi ada masalah mendasar: regulasi bergerak lebih lambat dari teknologi.
Wamenkomdigi Nezar Patria sendiri mengakui bahwa penyalahgunaan AI melalui deepfake meningkatkan ancaman penipuan digital secara signifikan. Namun, hingga kini, belum ada regulasi yang secara spesifik dan komprehensif mengatur pembuatan dan penyebaran deepfake untuk tujuan penipuan. Yang tersisa adalah literasi. Dan literasi digital masyarakat Indonesia—terutama generasi yang paling rentan—masih jauh dari cukup.
Dampaknya bagi Perusahaan
Bagi pelaku bisnis, ada tiga implikasi yang tidak bisa diabaikan:
Pertama, kepercayaan adalah aset yang paling rentan. Jika wajah dan suara CEO perusahaan Anda bisa dipalsukan untuk mempromosikan produk atau investasi palsu, reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa hancur dalam hitungan jam. Ini bukan skenario hipotetis—ini sudah terjadi pada Chairul Tanjung dan Sultan HB X.
Kedua, keamanan siber harus mencakup deepfake. Selama ini, investasi cybersecurity berfokus pada perlindungan data dan sistem. Tapi ancaman baru ini menyasar manusia—menipu karyawan, nasabah, atau mitra dengan suara dan wajah yang tampak asli. OJK bahkan mencatat bahwa deepfake kini digunakan untuk meniru pegawai bank guna meyakinkan nasabah.
Ketiga, verifikasi identitas digital menjadi prioritas. Sistem onboarding yang hanya mengandalkan video call atau foto selfie kini rentan. Perusahaan fintech, perbankan, dan layanan digital harus mulai mengadopsi teknologi deteksi deepfake dalam proses verifikasi mereka.
Yang sebaiknya dilakukan untuk perusahaan dan institusi:
Pertama, edukasi karyawan dan pelanggan. Banyak korban deepfake percaya karena mereka tidak tahu bahwa hal seperti itu mungkin. Kampanye literasi digital yang menyasar skenario deepfake—bukan hanya phishing biasa—harus menjadi prioritas.
Kedua, investasi di teknologi deteksi. Platform seperti Hive Moderation dan Truth Scan sudah tersedia. Perusahaan yang bergerak di layanan keuangan, e-commerce, dan platform digital harus mulai mengintegrasikan solusi serupa ke dalam proses operasional mereka.
Ketiga, protokol verifikasi berlapis. Jangan pernah mengandalkan satu kanal komunikasi untuk memverifikasi instruksi sensitif. Jika ada "CEO" yang meminta transfer melalui video call, pastikan ada verifikasi tambahan melalui kanal terpisah.
Keempat, lindungi identitas digital perusahaan. Pastikan konten resmi perusahaan—foto, video, pernyataan—tidak mudah disalahgunakan. Watermark digital dan penandaan konten resmi bisa membantu membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.
Kesimpulan
Deepfake sudah berubah dari mainan menjadi senjata. Pelakunya tidak lagi sekadar iseng—mereka tahu persis siapa yang harus ditiru, apa yang harus dikatakan, dan bagaimana membuat korban percaya.
Bagi perusahaan, pertanyaannya bukan lagi apakah Anda akan menjadi target. Pertanyaannya adalah: apakah Anda siap ketika itu terjadi?
Karena di era di mana wajah dan suara bisa dipalsukan dengan akurasi 99 persen, kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga—dan paling mudah dipalsukan.
SUMBER REFERENSI:
· RRI.co.id, "Video AI Menko Airlangga Menjanjikan Bantuan Rp300 Juta per KK", 20 September 2026
· Kompas.com, "[HOAKS] Suahasil Nazara Beri Dana Bantuan pada September 2026", 18 September 2026
· Detik.com, "Video Promosi Investasi Catut Chairul Tanjung Dipastikan Hoax", 17 September 2026
· Kontan.co.id, "OJK Ungkap 1.379 Laporan Penipuan Pakai AI, Modus Makin Canggih", 13 September 2026
· Republika Online, "Sultan HB X Kembali Jadi Korban Rekayasa AI", 9 September 2026
· ANTARA, "Wamenkomdigi nilai 'deepfake' tingkatkan ancaman penipuan digital", 18 Juni 2026
· Komdigi.go.id, "AI Jadi Senjata Siber, Deepfake Naik 1.400 Persen", diakses 21 September 2026
Same In Category
- Vcloudpoint Membantu meningkatkan efisiensi pekerjaan
- Si Kecil Yang Hemat!
- “RISHA” TEKNOLOGI RUMAH SEHAT TAHAN GEMPA DARI PRESIDEN JOKOWI
- “Big Data” Tengah Populer di industri Teknologi, Lalu apa Fungsi dan Manfaatnya?
- ‘Shoelace’ Senjata Baru Google yang Siap Gantikan Google Plus
- ‘RCS’ iMessage ala Android Dari Google
- ‘Nettox Watch’ Solusi Ciptaan Mahasiswa UI Atasi Candu Internet
- ‘Meet Now’, Fitur Baru dar Skype yang Dapat Diakses Tanpa Unduh Aplikasi dan Sign-Up
- ‘GET’ Gojek Versi Thailand Resmi Mengaspal di Bangkok
- ‘Explore’ Gantikan Fitur Trending YouTube di Android dan iOS
Related Blogs By Tags
- Vcloudpoint Membantu meningkatkan efisiensi pekerjaan
- Si Kecil Yang Hemat!
- “RISHA” TEKNOLOGI RUMAH SEHAT TAHAN GEMPA DARI PRESIDEN JOKOWI
- “Boba Watch” Aplikasi Recommended Buat Kamu Pecinta Bubble Tea
- “Big Data” Tengah Populer di industri Teknologi, Lalu apa Fungsi dan Manfaatnya?
- ‘Shoelace’ Senjata Baru Google yang Siap Gantikan Google Plus
- ‘RCS’ iMessage ala Android Dari Google
- ‘Nettox Watch’ Solusi Ciptaan Mahasiswa UI Atasi Candu Internet
- ‘Meet Now’, Fitur Baru dar Skype yang Dapat Diakses Tanpa Unduh Aplikasi dan Sign-Up
- ‘GET’ Gojek Versi Thailand Resmi Mengaspal di Bangkok






























Leave A Comment