Data Center Indonesia Meledak: Harus Aman, Hijau, dan Tidak Mengorbankan Lingkungan.

Indonesia sedang mengejar sebuah perlombaan baru. Bukan hanya membangun jalan, kawasan industri atau pusat ekonomi, tetapi membangun infrastruktur digital yang akan menjadi fondasi ekonomi masa depan.

Data center tumbuh karena cloud semakin banyak digunakan, AI membutuhkan computing power besar, perusahaan memindahkan sistem ke digital, dan pemerintah terus mendorong transformasi digital. Namun perkembangan terbaru di Jatiluhur memberikan sebuah peringatan penting.

Proyek data center AI milik BDx Data Centers dengan kapasitas daya hingga 640 MW dihentikan sementara oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena dokumen AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung belum tersedia. Proyek tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terkait kebisingan dan potensi tekanan terhadap kebutuhan air masyarakat serta pertanian.

Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar satu proyek. Indonesia sedang memasuki era data center, tetapi aturan main untuk era tersebut juga harus ikut berkembang.

Data center bukan sekadar gedung berisi server
Bagi masyarakat umum, data center mungkin terlihat seperti bangunan besar dengan deretan server. Sesungguhnya jauh lebih kompleks. Di dalamnya terdapat server dan GPU, storage, network, UPS, generator, transformer, sistem pendingin, sistem fire suppression, physical security, cybersecurity, monitoring dan berbagai infrastruktur pendukung.

Satu komponen kritis gagal, dampaknya dapat menjalar ke seluruh layanan. Karena itu, data center adalah infrastruktur strategis, bukan sekadar properti komersial. Data center juga semakin penting bagi ekonomi karena berbagai layanan yang digunakan masyarakat—banking, marketplace, cloud, aplikasi pemerintah, AI, komunikasi dan sistem perusahaan—bergantung pada ketersediaan infrastruktur tersebut.

Kontan melaporkan bahwa kapasitas data center Indonesia diproyeksikan meningkat sangat besar, dari sekitar 580 MW pada semester I-2026 menuju sekitar 3,5 GW pada 2030. Pertumbuhannya luar biasa. Tetapi semakin besar infrastrukturnya, semakin besar pula tanggung jawabnya.

Green tech tidak boleh menjadi slogan, ada paradoks dalam perkembangan AI. AI dianggap sebagai teknologi masa depan yang dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Tetapi untuk menjalankan AI dalam skala besar, dibutuhkan data center dengan konsumsi listrik dan kebutuhan pendinginan yang besar.

Karena itu, digital economy dan green economy sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Pemerintah sendiri baru-baru ini menegaskan bahwa ekonomi hijau dan akselerasi infrastruktur digital merupakan dua mesin yang perlu berjalan bersama dalam transformasi ekonomi Indonesia. Artinya, membangun lebih banyak data center saja tidak cukup.

Pertanyaan berikutnya harus:
Seberapa efisien data center tersebut menggunakan energi?
Dari mana listriknya berasal?
Bagaimana sistem pendinginannya?
Berapa banyak air yang dibutuhkan?
Bagaimana dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar?
Ini bukan lagi pertanyaan tambahan. Ini harus menjadi bagian dari desain sejak awal. Indonesia membutuhkan standar “green data center”

Institute for Essential Services Reform atau IESR menilai pemerintah perlu mempercepat regulasi safeguard AI dan data center yang memasukkan standar lingkungan, sosial dan energi sebagai bagian dari persyaratan.

IESR juga mendorong penggunaan sistem pendingin tanpa air atau closed-loop, target efisiensi energi PUE di bawah 1,3, serta peningkatan penggunaan energi terbarukan pada data center.

Jika diterapkan secara konsisten, konsep ini dapat mengubah cara investor membangun data center.
Bukan: “Berapa MW yang bisa kita bangun?”
Tetapi: “Berapa MW yang bisa kita gunakan secara efisien dan berkelanjutan?”

Perbedaan pertanyaan tersebut sangat besar. Tetapi ada satu sisi lain: cybersecurity. Semakin penting data center, semakin besar pula nilainya bagi penyerang siber. Presiden Prabowo Subianto bahkan menegaskan dalam pidato HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober bahwa ancaman terhadap Indonesia tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga melalui serangan siber, disinformasi dan berita bohong.

Ini relevan langsung dengan perkembangan data center. Bayangkan jika sebuah fasilitas digital mempunyai keamanan fisik yang sangat kuat tetapi sistem identitas digitalnya lemah. Atau firewall sangat baik, tetapi akun administrator menggunakan password yang buruk. Atau server terlindungi, tetapi backup tidak pernah diuji. Atau sistem berjalan normal, tetapi akses vendor pihak ketiga tidak dikontrol.

Data center modern harus menggabungkan physical security dan cybersecurity. Keduanya tidak boleh lagi dipisahkan. Keamanan data dimulai sebelum data masuk ke server. Ada pemahaman yang sering keliru bahwa keamanan data berarti “server harus aman”. Padahal keamanan dimulai jauh sebelumnya.

Siapa yang memiliki akses? Dari perangkat mana? Melalui jaringan apa? Apakah identitas pengguna sudah diverifikasi? Apakah aktivitasnya dimonitor? Apakah data terenkripsi? Apakah backup tersedia? Dan apabila terjadi ransomware, seberapa cepat sistem dapat dipulihkan?

BSSN juga baru-baru ini menekankan pentingnya keamanan pertukaran data hingga tingkat antarperangkat dan mendorong penggunaan sertifikat digital untuk membangun validitas serta kepercayaan dalam tata kelola data.

Artinya, keamanan masa depan semakin bergerak menuju trusted digital infrastructure. Data center yang hijau tetapi tidak aman juga bermasalah. Bayangkan sebuah data center:
hemat energi, menggunakan energi terbarukan, menghemat air, memiliki desain bangunan modern, tetapi mengalami ransomware dan tidak dapat melayani pelanggan selama berhari-hari.

Apakah itu sustainable? Belum tentu. Sebaliknya, data center yang sangat aman tetapi boros energi dan menggunakan sumber daya secara tidak efisien juga menghadapi persoalan. Karena itu, data center masa depan membutuhkan setidaknya empat fondasi: Reliable — Secure — Efficient — Sustainable. Keandalan memastikan layanan tetap hidup.

Cybersecurity melindungi sistem dan data. Efisiensi menekan konsumsi energi serta biaya. Sustainability menjaga dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat. Ini peluang besar bagi industri IT Indonesia. Di balik persoalan tersebut terdapat peluang bisnis yang sangat besar.

Pembangunan data center tidak hanya membutuhkan gedung dan server. Ekosistemnya membutuhkan: server dan storage; high-speed networking; cybersecurity; identity management; backup dan disaster recovery; monitoring; cooling; power management; cloud integration; physical security; compliance; energy efficiency; serta managed services.

Artinya, pertumbuhan data center dapat menciptakan pasar yang jauh lebih luas bagi perusahaan IT lokal. Perusahaan seperti Lima Benua tidak harus bersaing membangun data center raksasa. Justru peluang yang menarik berada di lapisan teknologi dan layanan di sekelilingnya.

Saatnya perusahaan melakukan “Digital Infrastructure Health Check”
Perusahaan yang sedang memperbesar penggunaan cloud, AI atau sistem digital tidak perlu menunggu sampai terjadi gangguan. Mereka dapat memulai dari assessment.
Apakah server masih memadai? Apakah jaringan memiliki kapasitas untuk pertumbuhan AI? Apakah backup benar-benar dapat dipulihkan? Apakah akses administrator sudah aman? Apakah endpoint terlindungi? Apakah data sensitif telah diklasifikasikan? Apakah perusahaan mengetahui ketergantungannya terhadap cloud dan data center tertentu?

Dan yang paling penting: Jika sistem utama berhenti hari ini, berapa lama perusahaan mampu tetap beroperasi? Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bagian dari business continuity, bukan hanya urusan IT. Jangan mengejar data center dengan cara lama.

Potensi investasi data center Indonesia sangat besar. Bisnis.com bahkan melaporkan estimasi potensi investasi data center berbasis AI mencapai sekitar Rp360 triliun, sekaligus menyoroti pentingnya kepastian kebijakan agar momentum investasi tidak terganggu.

Angka sebesar itu tentu merupakan peluang. Tetapi Indonesia tidak boleh hanya berlomba menjadi negara dengan jumlah data center terbesar. Target yang lebih penting adalah menjadi negara dengan ekosistem digital yang terpercaya. Data center harus dibangun dengan izin yang jelas. Energinya harus semakin bersih.

Penggunaan air harus bertanggung jawab. Keamanannya harus dirancang sejak awal. Data harus dilindungi. Dan masyarakat sekitar harus menjadi bagian dari pertimbangan pembangunan. Karena pada akhirnya, data center bukan hanya tentang server. Data center adalah fondasi kepercayaan ekonomi digital.

Saatnya Bisnis Menguji Kesiapan Infrastruktur Digital
Bagi perusahaan Indonesia, pertanyaannya sekarang bukan lagi “Apakah kita perlu digital?” Sebagian besar sudah menjawabnya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apakah infrastruktur digital kita siap tumbuh dengan aman, efisien, dan berkelanjutan?”

Lima Benua dapat membantu perusahaan melakukan Digital Infrastructure & Cybersecurity Assessment untuk memetakan kesiapan server, storage, network, cloud, endpoint, identity, cybersecurity, backup, disaster recovery, hingga monitoring.

Bukan sekadar membeli perangkat. Bukan sekadar memasang firewall. Tetapi membangun infrastruktur yang reliable, secure, efficient, dan sustainable sesuai kebutuhan bisnis. Jangan menunggu sistem berhenti, data bocor, atau investasi IT membengkak baru melakukan assessment.

Hubungi Lima Benua dan mulai audit kesiapan infrastruktur digital perusahaan Anda sekarang—karena pertumbuhan bisnis yang besar membutuhkan fondasi IT yang sama kuatnya.



Sumber / Referensi:
- Pemerintah Provinsi Jawa Barat/ANTARA mengenai penghentian sementara proyek data center AI Jatiluhur karena AMDAL dan PBG.
- Reuters mengenai penghentian proyek BDx dan isu perizinan di tengah ekspansi data center Indonesia.
- IESR/ANTARA mengenai kebutuhan regulasi green data center, efisiensi energi, pendinginan, air, dan energi terbarukan.
- Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengenai ekonomi hijau dan digital sebagai twin engine ekonomi.
- BSSN/ANTARA mengenai keamanan pertukaran data dan sertifikat digital.
- Metro TV mengenai pernyataan Presiden Prabowo tentang ancaman siber, disinformasi, dan hoaks.
- Bisnis.com mengenai potensi investasi data center AI sekitar Rp360 triliun.


  • Write By: admin
  • Published In:
  • Created Date: 2026-10-06
  • Hits: 114
  • Comment: 0

Tags:

Leave A Comment