Rp167 Triliun Hilang: Mengapa Teknologi Jadi Harapan Terakhir Melawan Karhutla.

Api di lahan gambut tidak selalu terlihat.

Ia menyala di bawah permukaan, membara perlahan, dan muncul kembali setelah petugas berpindah ke titik lain. Puluhan pompa diturunkan, tanah dibasahi, tapi sehari kemudian api menyala lagi di lokasi yang sama.

“Artinya, porositas yang cukup tinggi harus kemudian dilakukan langkah-langkah yang lebih berbasis ilmu pengetahuan,” kata Wamenko Pangan Hanif Faisol Nurofiq, September lalu.

Kalimat itu adalah pengakuan bahwa cara lama tidak lagi cukup. Dan di balik kabut asap yang menyelimuti Kalimantan dan Sumatera, sebuah perang teknologi sedang berlangsung—jarang diliput, tapi menentukan.

Apa yang Terjadi?

Sepanjang 2026, karhutla kembali menjadi bencana nasional. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat kejadian karhutla pada Januari–Juni 2026 melonjak 366 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Hingga Juli, luas terbakar resmi mencapai 202.011 hektar.

Kompas merangkum estimasi kerugian ekonomi yang mencengangkan: Rp167 triliun hingga pertengahan Oktober 2026, atau setara 0,65 persen PDB Indonesia. Jika pola kebakaran berlanjut seperti 2015 dan 2019, angka itu bisa membengkak hingga Rp204 triliun.

Sektor pertanian menjadi yang paling terpukul, dengan kerugian ditaksir Rp50 triliun, disusul kehutanan dan emisi karbon yang masing-masing mencapai Rp41 triliun.

Tapi angka-angka itu hanya bercerita tentang kerugian. Yang jarang dibahas adalah bagaimana Indonesia melawan.

Mengapa Ini Penting?

Karena karhutla bukan sekadar bencana lingkungan. Ia adalah kegagalan sistemik yang dipaksa untuk diselesaikan dengan teknologi.

Lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah masif. Ketika terbakar, emisi yang dilepas jauh lebih besar daripada kebakaran hutan biasa. Dan karena api bersembunyi di bawah permukaan, metode konvensional—menyiram permukaan dengan air—seringkali tidak efektif. Di sinilah teknologi masuk.

Konteksnya: Tiga Senjata Baru Melawan Api

Pertama, drone termal. Teknologi ini mampu mendeteksi panas di dalam lapisan gambut, bahkan ketika api tidak terlihat secara kasat mata. Pangdam XXII/Tambun Bungai menggunakan kamera termal untuk menemukan titik panas tersembunyi, membantu satgas menentukan lokasi yang masih membutuhkan penanganan. BNPB dan TNI juga mengerahkan drone serupa untuk mendeteksi titik api baru.

Kedua, cairan surfaktan. Inovasi Bidlabfor Polda Kalsel ini bekerja dengan membasahi lapisan gambut lebih cepat, meresap ke dalam tanah, dan membentuk lapisan busa di permukaan. Hasilnya? Suhu area gambut yang semula 130°C turun menjadi sekitar 30°C dalam waktu kurang lebih satu menit setelah diaplikasikan. Efisiensi penggunaan air pun meningkat—krusial di tengah keterbatasan sumber daya air.

Ketiga, dry ice atau es kering. BNPB telah menguji teknologi ini di Sumatera Selatan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca. Tujuannya memicu hujan dan mengurai asap yang terperangkap di lapisan bawah atmosfer. Jika efektif dan biayanya terjangkau, teknologi ini bisa diterapkan di seluruh wilayah Indonesia.

Ketiganya bukan teknologi tinggi yang rumit. Tapi kombinasi ketiganya mengubah cara Indonesia menghadapi karhutla—dari reaktif dan konvensional menjadi prediktif dan berbasis data.

Dampaknya bagi Perusahaan Teknologi.
Bagi pelaku bisnis di Indonesia, perang teknologi melawan karhutla membuka tiga peluang yang jarang disadari:

Pertama, pasar sensor dan pemantauan lingkungan. Drone termal hanyalah satu contoh. Kebutuhan akan sensor kualitas udara, sistem peringatan dini berbasis IoT, dan platform analitik data lingkungan akan terus tumbuh seiring meningkatnya frekuensi bencana iklim.

Kedua, solusi efisiensi air dan energi. Cairan surfaktan yang mengurangi kebutuhan air menunjukkan bahwa inovasi di bidang efisiensi sumber daya memiliki nilai ekonomi yang nyata. Perusahaan yang bisa menawarkan solusi serupa—bukan hanya untuk karhutla, tapi juga untuk industri—akan memiliki keunggulan.

Ketiga, layanan analitik dan prediksi. Data satelit, citra drone, dan sensor lapangan menghasilkan volume data yang besar. Perusahaan yang bisa mengolah data ini menjadi prediksi yang akurat—kapan dan di mana api akan muncul—akan menjadi mitra strategis bagi pemerintah dan sektor swasta.

Analisis: Teknologi Tidak Akan Menyelamatkan Kita Tanpa Pencegahan.

Ada satu hal yang perlu ditegaskan: teknologi pemadaman hanyalah bagian dari solusi.

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi mengingatkan bahwa upaya pemadaman akan sulit mencapai hasil optimal apabila masih terjadi pembakaran lahan. Ia menyerukan keterlibatan seluruh pihak—pemerintah pusat, daerah, masyarakat, dan perusahaan pemegang konsesi.

Ini adalah pengingat bahwa karhutla bukan masalah teknis semata. Ia adalah masalah tata kelola, penegakan hukum, dan perilaku. Teknologi bisa mendeteksi titik panas, tapi tidak bisa menghentikan seseorang yang membuka lahan dengan cara membakar.

Kombinasi antara teknologi dan kebijakan adalah kunci. Tanpa keduanya, drone termal dan cairan surfaktan hanyalah alat yang bekerja setelah kerusakan terjadi.

Yang sebaiknya dilakukan untuk perusahaan teknologi dan enterprise di Indonesia:

Pertama, mulai petakan peluang di sektor lingkungan dan kebencanaan. Ini adalah pasar yang akan tumbuh, didorong oleh perubahan iklim dan meningkatnya kesadaran akan risiko.

Kedua, bangun solusi yang bisa dioperasikan di lapangan. Teknologi yang terlalu rumit atau mahal tidak akan berguna di daerah terpencil dengan keterbatasan infrastruktur.

Ketiga, kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas. Model yang berhasil—seperti penggunaan drone termal oleh TNI dan Polri, atau cairan surfaktan oleh Polda Kalsel—melibatkan banyak pihak. Perusahaan yang bisa menjadi bagian dari ekosistem ini akan memiliki akses ke data dan kebutuhan yang nyata.



Kesimpulan
Karhutla 2026 telah menelan biaya Rp167 triliun. Angka itu akan terus bertambah selama api belum padam. Dan di balik angka itu, ada pertempuran yang jarang terlihat: drone yang memindai panas di bawah tanah, cairan yang menurunkan suhu dari 130°C ke 30°C, dan es kering yang ditaburkan ke awan untuk memancing hujan.

Ini adalah wajah lain dari transformasi digital Indonesia—bukan di ruang rapat korporat, tapi di tengah asap dan lahan gambut yang membara.

Bagi bisnis teknologi, pertanyaannya bukan lagi apakah karhutla adalah peluang. Pertanyaannya adalah: apakah kita akan menjadi bagian dari solusi, atau tetap menonton dari jauh sementara api terus menyala?



SUMBER REFERENSI:
· Kompas.com, “Pertanian hingga Emisi Karbon, Ini Kerugian Ekonomi akibat Karhutla 2026”, 17 Oktober 2026
· ANTARA News, “Cairan asal Brasil jadi opsi baru pemadaman karhutla”, 11 Oktober 2026
· ANTARA News, “BNPB kaji penerapan teknologi ‘dry ice’ untuk penanganan karhutla”, 18 Oktober 2026
· Media Center Kalsel, “Wamenko Pangan Soroti Pemanfaatan Thermal Drone untuk Deteksi Api di Gambut”, 4 September 2026
· Kabarpolri.com, “Dampingi Wapres Gibran, Kapolda Kalsel Tunjukkan Inovasi Cairan Surfaktan dan Drone Thermal Langsung di Titik Api Lahan Gambut”, 10 September 2026
· RRI.co.id, “Kabut Asap Tekan Pendapatan UMKM, Bazar dan Wisata Terdampak”, 13 Oktober 2026


  • Write By: admin
  • Published In:
  • Created Date: 2026-10-21
  • Hits: 94
  • Comment: 0

Tags:

Leave A Comment